Monday, September 11, 2006

Tukang Ojek Diperas Polisi

Hari ini seorang polisi telah memeras tukang ojek. Hal ini terjadi tepat di pertigaan dekat kantor polisi belakang stasiun Tebet jam 10.00 pagi.

Kebetulan teman kantor saya setiap berangkat dan pulang kerja menggunakan jasa ojek. Karena tukang ojeknya masuk ke jalur yang tak boleh dilewati, seorang polisi yang lagi nangkring di warteg tiba-tiba menghentikanya. Polisi itu marah-marah. Karena merasa bersalah tukang ojek tersebut diam saja. Lantas tukang ojek itu bermaksud menyelesaikan masalah dengan mengeluarkan satu-satunya lembaran limaribuan dari dompetnya. Apa kata polisi tersebut?

“Kamu mau ngasih aku segitu, yang benar saja? Atau kamu ingin sidang sendiri.”

Mendengar kalimat itu, tukang ojek itu mencoba merendahkan harga dirinya. Gimana lagi uangnya memang hanya itu. Si polisi tak menggubris dan malah masuk warung mengambil surat tilang. Sebenarnya polisi itu mau minta bayaran lebih tinggi lagi, yaitu Rp 25.000. Tapi tukang ojek tersebut tak punya uang lagi.

Dengan dongkol, temenku segera mengeluarkan uang Rp20.000 untuk nalangi kekurangan tukang ojek langgananya. Maka selesai sudah kasus pelanggaran tersebut dengan Rp25.000 tadi. Si polisi menerima uang tersebut dan kembali masuk ke warung. Kalau nggak percaya, cek aja ke penjual wartegnya.

Mendengar kejadian itu, temenku yang lain bilang, “Anjrit tuh polisi. Mudah-mudahan makan paginya hari ini yang berasal dari uang haram itu bikin ia mencret dah”

Begitulah kawan-kawan, kelakuan para penegak hukum kita. Turut berkabung, karena hukum kian sekarat.

Saturday, September 09, 2006

Wajah-Wajah Gelisah

Wajah-wajah berkerut
Mata-mata kehilangan
Tua dan cemas
Memaksa diri untuk mengerti hukum
Sebab kalau tidak, besok rumah dan tanahnya akan hilang
Bego dan buldoser menelan kehidupanya sudah
Kemana lagi akan tinggal
Di belantara yang miskin kepedulian

Lalu sesama saling berjabat tangan
Mencoba untuk tersenyum
Saling bertanya apa yang salah
Meski akhirnya tak mengerti juga

Jakarta, 9 September 2006
Dipersembahkan untuk korban penggusuran di Jakarta

Tuesday, September 05, 2006

Menggugat Keberbudayaanku

Hmm…beberapa hari tak menulis di blog ini. Setelah diterkam ketakkreativan plus mengalami kemacetan berinspirasi, dan juga karena malu blog-ku tak segera diup-date, akhirnya aku menulis juga. Jadi tak ada alasan menyalahkan situasi meskipun kali ini nggak jelas apakah blog yang memaksaku menulis atau aku sedang punya ide.

Kalau membaca tulisan
Van Peursen, rasanya terlalu hiperbol kalau aku bilang , lembar-lembar pertama karyanya seperti menyeretku. Ah.. memang tak sehebat itu. Aku hanya sedikit jatuh cinta pada kalimat Kant yang dikutip oleh Peursen. Ia bilang, ciri khas kebudayaan terdapat dalam kemampuan manusia untuk mengajar dirinya sendiri. Peursen melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan kebudayaan sebagai ketegangan antara imanensi (keniscayaan alam dan fakta yang mengurung manusia) dan transendensi (keterbukaan akibat penilaian kritis untuk menerobos arus alam yang menguasai manusia). Jadi kebudayaan itu dekat sekali dengan perubahan yang disengaja.

Tiba di bagian yang paling sadis. Jadi di bagian mana dalam hidupku yang boleh disebut aktivitas berbudaya? Sulit di jawab kan? Misalnya, belajar Bahasa Inggris secara tidak kontinyu tak bisa dimasukkan sebagai aktifitas berbudaya. Belajar berenang setengah-setengah tidak masuk kategori aktifitas berbudaya. Pokoknya semua tindakan yang tak terencana dan sering mandeg di jalan tidak bisa disebutkan aktifitas berbudaya.

Ya sudah, kalau memang tidak banyak tindakan kita yang boleh dibilang tindakan berbudaya, yang penting mulai sekarang aku harus lebih banyak melakukan aktivitas-aktivitas yang memiliki kandungan transedensi yang lebih banyak. Menjadi manusia yang tak hanya bertopang dagu.

Wednesday, August 30, 2006

Blog dan Generasi Instan

Memiliki Blog adalah prestasi. Bagaimana tidak, orang yang paling piawai per-blog-an dikantorku, tiap kali aku tanya cara nambahi pernak-pernik blog, jawabannya hanya satu, baca bagian
help. Sedikit saja aku protes, dia bilang "Segala sesuatu itu musti dipelajari, lu maunya yang gampang-gampang saja. Dasar generasi instan!" Yah...kalau akhirnya kepepet, lalu kubilang "Kan kalau sudah ada orang yang bikin roda, kita harus belajar bikin mobil. Ngapain menemukan cara bikin roda lagi." He..he..he..dia marah. Ia bilang "Di dunia ini yang nggak perlu belajar hanya cara bikin anak." Ups...untung nggak ada kaum feminis yang ahli kesehatan reproduksi di situ. Bisa-bisa berantem habis.

Tapi memang bagi orang awam di bidang IT, bikin blog itu harus mau ribet. Hari ini, tampilan yang diperoleh lumayan. Besoknya hancur gara-gara mau nambahin sedikit asesoris saja. Yah...ternyata aku harus bangga, meskipun perkembangan rancangan blog-ku lambat, tapi untuk bisa membaca bahasa
HTML yang harus dengan menggunakan teori chaos adalah perjuangan.

Jadi, kalau sekarang ada teman yang bertanya gimana bikin ini atau bikin itu di blog. Aku punya jawaban dengan rumus ampuh. Baca
help!

Tuesday, August 29, 2006

Kanker

Ada yang berbeda di payudaraku sebelah kanan. Desir khawatir datang beberapa hari berikutnya. Dari SMS teman yang kebetulan dokter sampai browsing di internet kulakukan. Semua indikasi mengarah ke satu hal walau perasaanku bilang belum begitu parah. Datang ke dokter dan berharap hasilnya berbeda. Dokter bilang tak cukup dengan pemeriksaan fisik.

Aku datang ke rumah sakit. Menyaksikan puluhan orang menderita sedang menunggu dokternya masing-masing. Dan aku sekarang seperti mereka. Aku tak bisa memperoleh seorang
onkolog hari itu. Yang ada dokter ahli bedah umum. Tak terfikir untuk menunda pemeriksaan. Yang aku butuhkan segera sebuah kepastian yang setengah menakutkan tersebut.

Dokter bedah umum memintaku melakukan serangkaian pemeriksaan. Sekian jam kulewati untuk menunggu dokter lain yang akan melakukan USG. Baru setelah makan siang, aku mendapatkan hasilnya. Itupun tak cukup dijadikan dasar sebuah diagnosa. Jam-jam berikutnya aku mesti ke bagian radiologi untuk melakukan pemeriksaan dengan mamografi. Jam tiga saat mamografi selesai, dokter bedahku sudah pulang. Aku tak memperoleh informasi yang pasti.

Ini yang paling tidak enak. Pulang dengan membawa ketidak-pastian. Apalagi untuk kasus kanker, lebih banyak orang gagal ketimbang sehat. Kemudian aku baru berfikir tentang kematian. Sebenarnya kalau boleh memilih, kalaupun nanti benar-benar menderita kanker, aku ingin menghadapinya dengan tegar. Tanpa menitikan air mata dan juga tanpa membuat orang lain iba. Tapi siapa yang sanggup melakukan itu?

Malam itu tiba-tiba aku rindu untuk berada ditengah-tengah orang yang menyayangiku. Yang mengajakku mengobrol hal-hal sehari-hari untuk melupakan kangker tersebut. Tapi dasar aku sok keras kepala, beberapa kali teman menelpon, meminta menginap dirumahnya, memberi dukungan via sms. Dengan sok tegar, kubilang aku baik-baik saja. Padahal sedetikpun malam itu aku tak bisa beralih untuk tidak berfikir tentang kangker. Benar-benar munafik habis. Benar apa kata guru 'agamaku', itulah manusia. Hidup dalam
rumah kertas. Serba basa basi. Bahkan saat terjepitpun, orang seperti masih memerlukan harga diri agar ia tak pecah.

Hal melegakan terjadi besok sorenya. Aku baru bisa bertemu dengan dokter bedah itu. Dari hasil USG dan mamografi, ia bilang aku hanya mengalami pembengkakan kelenjar dan akan sembuh dengan minum obat. Uh..apa yang aku takutkan semalaman tak sampai menjadi kenyataan.

Kejadian tersebut berlangsung dua bulan yang lalu. Sampai sekarang aku masih sering bertanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Tak paham benar. Hampir seperti wayang kulit yang hampir masuk kotak. Tiba-tiba dalangnya meraihnya kembali dan menaruhnya di depan layar.

Sunday, August 27, 2006

Kereta Dorong..

Tempo hari, aku menabrak kereta dorong di sebuah tempat belanja. Untung nggak ada yang liat, meski lututku agak biru-biru. Yang tak pernah kepikiran sebelumnya, kok bisa ya aku nggak lihat barang segedhe itu?

Apakah ini salah satu bukti bahwa
informasi itu sebenarnya berlimpah, namun antusiasmeku terhadap sesuatu cenderung terbatas. Mungkin karena otakku tak mau menangkap informasi bahwa ada kereta dorong di depanku kakiku, sehingga mataku tak sanggup melihat barang itu. Maka aku tabrak kereta dorong itu dengan tanpa merasa bersalah.

Sebenarnya peristiwa tabrakan itu biasa-biasa saja. Hanya kalau dipikir-pikir khok bodo dan rugi amat. Contoh lain, coba perhatikan kelakuan kawan-kawan kita (bahkan kita juga tak kalah sering seperti mereka lho). Sering seseorang mengungkapkan pendapat dengan panjang lebar dan berapi-api. Betapapun pendapat mereka benar dan cukup masuk akal, kalau si pendengar dari awal sudah berprasangka...jangan-jangan...jangan-jangan...Apa yang tertangkap tak akan sama seperti yang dimaksudkan oleh si pembicara. Bisa dibayangkan dua orang berbicara dengan asumsi-asumsinya sendiri dan tak akan pernah ketemu selagi salah satu diantaranya tak menyadari hal itu.

Berapa banyak waktu yang kita buang hanya untuk keruwetan-keruwetan yang tak perlu seperti itu. Mmm....dan kita juga sering berlaku bodoh seperti itu.

Saturday, August 26, 2006

Sejarah Kelahiran Blog-ku

Hari Sabtu, hari yang paling enak untuk bangun siang. Hari tanpa pekerjaan. Bermalas-malasan sambil memeluk bantal. Pura-pura tak tahu kalau di luar sudah terang-benderang. Rasanya pingin aku menenggelamkan diri lama-lama dalam sabtu pagi yang nikmat ini.

Tapi celakanya..........., tepat di depan kamarku itu ruang makan. Tempatnya orang-orang ngumpul dan bergosip. Inilah sisi yang paling menyebalkan menjadi
anak kost. Ah....berisik dengan obrolan yang tak kuharapkan. Gelak tawa bercampur denting sendok dan piring bikin aku tak tahan. Tapi mau apa lagi, kekuasaan anak kost kan sebatas ukuran 3x3 m2 kamar kostnya saja. Mana bisa melarang mereka untuk tidak berisik. Lagian, tak setiap hari mereka begitu. Mungkin mereka juga lagi malas keluar.

Daripada........daripada, mendingan cepat-cepat kabur keluar. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari sabtu pagi ini di kost. Pilihan yang aku punya tak banyak. Membaca di kost sudah tak mungkin apalagi nimbrung ngobrol bareng mereka. Bukannya aku nggak bisa gaul sama mereka, tapi....topik pembicaraannya itu lhoh....yang tentang
film-film korea dan berita selebritis yang aku tak mengerti. Paling ke perpustakaan, tapi rasanya jauuuuh......Pergi ke mall, bosan dan bikin bangkrut. Mau ngumpul bareng geng-ku, pasti terlambat karena nggak janjian dari awal.

Baru kali ini aku tersiksa gara-gara tak ada rencana. Untung ada internet yang menyelamatkanku. Kenapa tak kuwujudkan ide bikin
blog yang sebenarnya sudah lama hanya menjadi niat belaka. Akhirnya aku bercinta dengan internet. Dan lahirlah blog ini....hiks